Menurut Para ulama yang telah mencapai makrifat kepada Allah sering memandang alam semesta ini dengan perspektif yang mendalam dan berbeda dari pandangan umum, karena mereka telah merasakan dan memahami hakikat ketuhanan dan eksistensi-NYA. Bagi mereka, alam semesta adalah manifestasi atau perwujudan dari sifat-sifat Allah yang agung, dan keberadaannya tidak lebih dari sekadar ilusi atau bayangan dari eksistensi sejati, yaitu Allah sendiri. Pandangan ini sering diilustrasikan melalui analogi "memejamkan mata," yang bermakna bahwa kenyataan dunia ini adalah fana dan sementara, sedangkan yang hakiki hanyalah Allah semata.
Dalam konteks ini, saat ulama-ulama tersebut "memejamkan mata," mereka melambangkan tindakan menyingkirkan pandangan terhadap dunia luar yang tampak, atau kenyataan dunia yang fana, untuk merasakan esensi dan kehadiran Allah di dalam hati mereka. Hal ini juga merujuk pada pengertian bahwa alam ini sebenarnya tidak memiliki keberadaan mandiri, tetapi hanya "terlihat" ada dalam pandangan manusia. Namun, saat seseorang mencapai makrifat, pandangan akan alam ini berubah menjadi kesadaran bahwa segala sesuatu hanyalah pantulan dari sifat-sifat Allah, sehingga yang hakiki hanyalah Allah semata.
Konsep ini sering ditemukan dalam ajaran tasawuf. Syaikh Ibn Arabi, salah satu tokoh sufi besar, menjelaskan bahwa alam semesta ini hanyalah tajalli (manifestasi) dari Allah. Beliau mengibaratkan bahwa semua makhluk adalah "cermin" yang memantulkan keberadaan Allah, dan segala sesuatu di dunia hanyalah perwujudan sifat-sifat-Nya. Ketika kita memejamkan mata, kita meninggalkan ilusi-indra yang terikat pada dunia fisik, dan dalam konteks makrifat, hal ini menggambarkan tindakan menuju ke dalam hati untuk mencapai kesadaran akan Tuhan.
Sufi lainnya, seperti Jalaluddin Rumi, sering menggambarkan perjalanan makrifat sebagai jalan kembali menuju cahaya dan sumber asal yang hakiki. Dalam pemahaman ini, memejamkan mata juga bisa dianggap sebagai tindakan “melihat dengan hati,” yaitu melihat alam dan diri sendiri sebagai bagian dari kekuasaan dan ketunggalan Allah, bukan sebagai entitas yang terpisah.
Singkatnya, konsep memejamkan mata dalam pandangan makrifat mencerminkan pemahaman bahwa alam semesta adalah maya (tidak nyata) dan Allah adalah satu-satunya Wujud sejati. Ini adalah cara mengalihkan pandangan dari dunia yang terlihat dan menuju kesadaran akan keesaan Allah yang meliputi segala sesuatu.
Dalam
Konsep " memejamkan matA " juga bisa kita analogikan seperti ini
Proses terjadinya alam semesta ini seperti orang yang sedang memejamkan mata di mana proses big bang terjadi di dalam kelopak mata kita sementara di luar kelopak mata itu adalah alam ketuhanan sehingga dapat kita tarik kesimpulan bahwa alam semesta ini hakekatnya adalah kosong ilusi karena berdasarkan temuan para ilmuwan ternyata atom atom penyusun alam semesta ini itu adalah 99,9% adalah kosong
Menurut temuan para ilmuwan, atom yg menyusun alam semesta ini m tersusun dari partikel elektron proton dan neutron
Di mana jarak antara elektron dan inti atom yaitu proton dan neutron itu sangat amat teramat jauh hampir 99,9% sehingga menciptakan ruang kosong dan riuang kosong inilah inilah yang disebut dengan Medan kuantum lalu bagaimana ceritanya Medan kuantum yang kosong itu bisa menciptakan partikel dasar dan massa i? Ternyata di Medan kuantum yg kosong tersebut tidak bemar benar kosong tapi terdapat energi yang tak kasat mata yaitu energi nur atau cahaya yang mana kita ketahui bersama bahwa cahaya itu bersifat dualitas yaitu bisa bersifat gelombang dan bisa juga bersifat partikel,
Para ilmuwan berpendapat bahwa partikel dasar itu tercipta dari energi nur ini yang terkonsentrasi sangat tinggi dan panas dan berfluktuasi di dalam medan kuantum tsb makin tinggi energinya maka makin berat partikelnya sehingga terciptalah masa dan partikel dasar
Para ulama tasawuf bedasarkan hadis nabi berpendapat bahwa alam semesta ini tercipta dari nur/cahaya nabi muhamad pada awalnya Allah subhanahu wa ta'ala itu menciptakan nur nabi Muhammad saw, lalu dari nur atau cahaya ini allah swt menciptakan alam semesta ini melaui proses big bang sebagaimana kita tahu nur atau cahaya juga merupakan energi dan dari energi yang sangat besar dan panas inilah lalu terkonsentrasi jadi satu dan berfluktuasi lalu meledak yang di sebut dg ledakan big bang sehingga terciptalah galaxy-galaksi dan planet-planet di alam semesta kita ini dan semuanya berputar
Penulis dulu sempat bertanya-tanya kenapa alam semesta ini semuanya berputar dari yang terbesar galaksi-galaksi,orang tawaf di Ka'b sampai skala yang paling terkecil atom semuanya berputar Setelah di pikir pikir ternyata perputaran itu untuk menciptakan dua hal yaitu petama menciptakan waktu dan yang kedua menciptakan perubahan, bayangkan Andai semuanya tidak berputar maka tidak akan ada waktu dan tidak akan ada perubahan dan ujung ujungnya takakan ada kehidupan
